Jumat, 17 Mei 2013

Permainan Tradisional Kalteng : Sepak Sawut

Dahulu, sepak sawut merupakan rangkaian ritual adat, dimainkan saat membuka ladang berpindah/saat menunggu jenazah (untuk umat Kaharingan). Sekarang olahraga rakyat itu secara rutin dimainkan pada setiap perayaan ulang tahun kabupaten atau provinsi di Kalteng.


Sepak sawut merupakan permainan tradisional yang banyak digemari oleh masyarakat bukan hanya kalangan muda tetapi banyak juga orang tua yang menggemari permainan yang satu ini terutama warga masyarakat Kalimantan. Sepak sawut yaitu sebuah permainan seperti permainan sepak bola pada umumnya. Namun yang membedakan dengan permainan sepak bola yaitu pada bola yang digunakan untuk bermain merupakan bola yang berapi...


Bolanya dapat terbuat dari bongkahan sabuk kelapa tua yang telah kering dengan terlebih dahulu airnya dibuang lalu bongkahan tersebut direndam menggunakan minyak tanah. Tujuannya supaya minyak meresap kedalam serat-serat bola kelapa tersebut. Supaya lebih seru lagi permainan ini dimainkan pada malam hari. Ini memiliki keindahan tersendiri, karena penerangan hanya menggunakan lampu seadanya dan cahaya kebanyakan bersumber dari bola api yang dimainkan. Peraturan main juga hampir sama, tidak berbeda jauh dengan main sepak bola pada umumnya yang terdiri dari dua gawang, gawang kita dan gawang musuh. Satu tim terdiri dari lima orang pemain. Lapangan yang digunakan tidak berbeda jauh dengan luas lapangan bola basket. Pertandingan dipimpin oleh seorang wasit. Siapa yang banyak memasukkan bola ke gawang lawan maka tim tersebut yang dinyatakan sebagai pemenang dalam lomba.
ahulunya sepak bola yang satu ini dimainkan pada saat orang ingin membuka ladang berpindah. Karena kebanyakkan pada tempo dulu di Kalimantan hampir semua kegiatan dilakukan secara gotong-royong seperti membangun rumah, membuka ladang, menanam padi, memanen padi yang dilakukan secara bersama-sama atau dalam bahasa daerahnya “handep”. Permainan sepak sawut sekarang sudah agak jarang kita temukan. Artinya permainan ini hampir langka hanya pada waktu-waktu tertentu saja kita dapat menyasikannya, misal pada perayaan ulang tahun Propinsi Kalteng, ulang tahun kabupaten, festival-festival budaya.



Pasti yang terlintas dalam benak kita sekaligus menjadi pertanyaan yang segera membutuhkan jawaban bahwa apakah para pemain sepak sawut tersebut tidak merasa sakit/panas karena api bersentuhan langsung dengan kaki para pemainnya? Para pemain juga tidak menggunakan sepatu dalam bermain seperti main bola pada umumnya. Selama ini tidak ada yang sampai terbakar atau merasa sakit setelah main sepak sawut. Akan hal tersebut saya kurang terlalu mengerti juga. Yang pasti para pemainnya tidak terlalu memikirkan hal tersebut dan mereka merasa menikmati pertandingan yang berlangsung.
Apabila budaya seperti itu dapat terus dilestarikan sebagai generasi muda Kalimantan maka tidak menutup kemungkinan budaya tersebut menjadi tontonan yang menarik bagi ratusan orang dari pulau yang berbeda atau para turis mancanegara yang datang untuk berkunjung ke Kalimantan hanya ingin menyaksikan pertandingan yang tidak akan terlupakan. Artinya dapat menjadi suatu objek wisata yang bakal banyak digemari. Secara tidak langsung akan meningkatkan perekonomian daerah melalui sektor pariwisata. Ekonomi masyarakat akan tumbuh dan banyak sektor lain juga yang akan berkembang oleh hal itu.
satu tim hanya diperkuat lima orang dengan ukuran arena seluas lapangan bola basket.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar