Jumat, 17 Mei 2013

Taman Alam Bukit Tangkiling


Bukit Tangkiling yang berjarak 34 kilometer dari pusat Kota Palangkaraya ini termasuk dalam kawasan Taman Wisata Alam (TWA) Bukit Tangkiling. Di sana terdapat Sembilan bukit yakni
Liau, Lisin, Tabala, Tunggal, Bulan, Buhis, Baranahu, Kalalawit, dan yang paling populer tentunya Tangkiling. Taman Wisata Alam Bukit Tangkiling ini membentang seluas 533 hektar dan dikelola oleh balai konservasi sumber daya alam (BKSDA) Kalteng. Di TWA Bukit Tangkiling, wisatawan dapat menyaksikan beberapa satwa seperti kasuari, landak, kera, dan binturong.


Bukit Tangkiling sebenarnya memiliki banyak potensi wisata sebagai tempat wisata terpadu yang belum dimanfaatkan secara maksimal. Selain menyajikan keindahan alam, Bukit Tangkiling juga bisa menjadi tujuan wisata religi dengan keberadaan Biara Pertapaan Karmel dan pura Hindu Kaharingan. Untuk meningkatkan kenyamanan Anda selama berwisata, Anda dapat menyewa pemandu, lewat kantor resor BKSDA Kalteng atau Anak Himba Outbound yang masih berada di TWA tersebut. Dari puncak Bukit Tangkiling, terbentang pemandangan indah sungai Rungan dan Pusat rehabilitasi Orangutan Nyarumenteng. 



Untuk mencapai puncak Bukit Tangkiling setinggi 197 mdpl, pengunjung harus menempuh perjalanan selama 30 menit menembus pepohonan rimbun di kaki bukit. Waktu yang paling tepat untuk mendaki adalah pagi hari dan sore hari dimana matahari tidak terlalu terik sehingga kurang nyaman untuk mendaki. 



Tersedia dua jalur pendakian yang bisa dilewati secara bergantian pada saat naik dan turun. Titik awal pendakian itu pun tidak jauh dari lokasi parkir kendaraan. Jika tidak kuat menanjak non stop, tidak perlu khawatir karena setelah 15 menit perjalanan ada tempat yang cukup lapang dengan beberapa bangku panjang dan meja kayu untuk beristirahat. Di lokasi istirahat ini, sebagian panorama indah telah terlihat seperti sungai Rungan, Bukit Baranahu dan hutan di sekitar Palangkaraya. Setelah sampai di atas, barulah semua jerih payah akan terbayar dengan panorama hampir ke seluruh Palangkaraya termasuk Jembatan Kahayan sepanjang 640 meter yang merupakan salah satu ikon kota Palangkaraya. Sambil menenggak minuman segar ditambah belaian angin sepoi-sepoi di puncak bukit. Amboi rasanya.



Selain menyimpan keindahan alam nan memesona, Bukit Tangkiling juga menyimpan sebuah dongeng yang menceritakan mengenai asal muasal sebuah batu besar yang ada di atas bukit. Tersebutlah seorang pemuda bernama Tangkiling, seorang saudagar kaya dengan kapal besarnya yang kerap melanglang buana. Suatu hari, singgahlah ia di pelabuhan dan turun dari kapal untuk berjalan-jalan. 



Tangkiling bertemu seorang perempuan yang bernama Bawi Kuwu dan terpesona oleh kecantikannya. Demikian juga sang perempuan juga tertarik dengan kegagahan Tangkiling sehingga tidak perlu lama bagi mereka untuk menikah. Pesta pernikahan pun digelar dan mereka menikmati masa-masa indah bersama. 



3 bulan setelah pernikahan, Bawi Kuwu diminta mencari kutu di kepala Tangkiling. Namun ketika menyibak rambut Tangkiling dan mendapati ada bekas luka di kepalanya, sadarlah Bawi Kuwu bahwa Tangkiling adalah anakanya.



Tangkiling pun teringat dengan kejadian 35 tahun lalu. Saat itu, Tangkiling kecil yang lapar merengek-rengek minta makan kepada ibunya, Bawi Kuwu. Rengekan Tangkiling membuat Bawi Kuwu hilang kesabaran sehingga dipukulnya kepala Tangkiling hingga terluka. Bocah itu menangis menjerit-jerit kesakitan dan berlri hingga pelabuhan dan ditolong oleh seorang saudagar yang merasa iba. Tangkiling kemudian diangkat menjadi anak dan mempunyai kapal besar hingga akhirnya bertemu dengan Bawi Kuwu. 



Singkat cerita, cinta terlarang itu dikutuk oleh para dewa, sehingga Tangkiling beserta kapalnya berubah wujud menjadi batu yang saat ini bertengger di Bukit Tangkiling.



Saat ini Tangkiling banyak dikunjungi para remaja yang usil menorehkan nama-nama mereka pada batu-batu tadi di puncak bukit. Memang keindahan bukit Tangkiling ini mampu memancarkan suasana romantis.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar